maslelis

Just another Edublogs.org site

ORASI DAN LITERASI

Filed under: Uncategorized — Mas Lelis at 1:24 pm on Senin, Juni 25, 2012

ORASI DAN LITERASI

DALAM PENGAJARAN BAHASA

 

Ada empat aspek kemampuan berbahasa dalam pembelajaran bahasa Indonesia yaitu aspek menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Aspek menyimak dan berbicara termasuk dalam kemampuan orasi, sedangkan membaca dan menulis termasuk dalam kemampuan literasi. Kemampuan orasi merupakan kemampuan yang berkaitan dengan bahasa lisan, sedangkan kemampuan literasi berkaitan dengan bahasa tulis.

Kemampuan menyimak dan membaca termasuk ke dalam kemampuan reseptif, sedangkan berbicara dan menulis termasuk ke dalam kemampuan berbahasa ekspresif. Agar keempat kemampuan tersebut dapat tercapai, maka perlu diupayakan pembelajaran yang tepat dengan strategi yang tepat pula.

Bahasa merupakan sarana komunikasi yang paling utama dalam kehidupan manusia, baik dalam komunikasi lisan maupun komunikasi tulis. Hal ini pula yang mendasari bahwa pembelajaran bahasa dengan empat aspek kemampuan mencakup menyimak, berbicara, membaca dan menulis harus dikembangkan.

 

Perbandingan Orasi dan Literasi

 

No

Orasi

Literasi

1

Sifatnya hampir universal, individual, normal Jauh dari universal dan sering kurang dikembangkan dengan baik

2

Diperoleh tanpa banyak pelatihan formal, sepanjang kehidupan seseorang Diperoleh melalui pembelajaran dan usaha keras, diperoleh setelah penguasaan bahasa lisan

3

Secara khas melibatkan kontak langsung, bersemuka (face to face)

 

Pengiriman pesan kepada penerima melalui pemindahan yang leluasa dalam bentuk tertulis, tidak bersemuka

4

Sering melanggar aturan tata bahasa yang sifatnya formal Menuntut ketaatan aturan kebahasaan

5

Diproduksi dalam periode waktu yang cepat Diproduksi dalam periode waktu yang lambat

6

Kemungkinan lebih cepat dilupakan, tetapi dapat juga bertahan lebih lama bergantung pada reaksi emosional dari penyimak Bisa bertahan lebih lama (melalui penerbitan), dapat diubah-ubah sebelum disampaikan kepada pembaca

 

7

Dipercaya untuk mengakui kekurangan/kesalahan dalam kaitannya dengan susunan penyampaian lisan Dipercaya untuk mencerminkan pengetahuan, ketepatan pribadi, kepercayaan, dan sikap.

 

8

Bertujuan untuk melakukan perubahan secara cepat terutama berkaitan dengan mode, arah pembicaraan, dan lain-lain Bertujuan untuk mempertahanan yang lebih tradisional dan menghindari mode yang tidak formal

 

9

Menyiratkan kesanggupan untuk memproduksi kata-kata lebih sedikit Menyiratkan ksanggupan untuk memprodksi kata-kata yang lebih banyak

10

Bertujuan menghubungkan gagasan bersama secara bebas Bertujuan menghubungkan gagasan bersama dalam suatu struktur yang kompleks

 

Definisi literasi menurut para ahli :

  1. Tompkins (1991:18) mengemukakan bahwa literacy merupakan kemampuan menggunakan membaca dan menulis dalam melaksanakan tugas-tugas yang bertalian dengan dunia kerja dan kehidupan di luar sekolah.
  2. Wells mengemukakan bahwa literacy merupakan kemampuan bergaul dengan wacana sebagai representasi pengalaman, pikiran, perasaan, dan gagasan secara tepat sesuai dengan tujuan.
  3. Sulzby (1986) mengartikan literasi sebagai kemampuan membaca dan menulis. Dalam pengertian luas, literasi meliputi kemampuan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) dan berpikir yang menjadi elemen di dalamnya.
  4. Menurut Unesco, seseorang disebut literate apabila ia memiliki pengetahuan yang hakiki untuk digunakan dalam setiap aktivitas yang menuntut fungsi literasi secara efektif dalam masyarakat, dan pengetahuan yang dicapainya dengan membaca, menulis, dan arithmetic memungkinkan untk dimanfaatkan bagi dirinya sendiri dan perkembangan masyarakat.
  5. Wells mengemukakan bahwa untuk menjadi literate yang sesunguhnya, seseorang harus memiliki kemampuan menggunakan berbagai tipe teks secara tepat dan kemampuan memberdayakan pikiran, perasaan, dan tindakan dalam konteks aktivitas sosial dengan maksud tertentu. Dalam hal ini literat diartikan sebagai mahir wacana (dalam Muhana, 2003; 20). Dengan demikian, dalam pembelajaran di kelas guru hendaknya melahirkan siswa yang literat.

 

Jenis Literasi

  1. 1.       Literasi Visual

Literasi visual merupakan kemampuan dimana individu memiliki kemampuan mengenali penggunaan garis, bentuk, dan warna sehingga dapat menginterpretasikan tindakan, mengenali objek, dan memahami pesan lambang (Read dan Smith, 1982). Literasi visual berfokus pada penafsiran gambaran visual seseorang yang juga terkait dengan kemampuan membaca dan kemampuan menulis. Literasi visual memungkinkan anak yang baru masuk bangku sekolah untuk dapat menyusun gambaran visual sebuah cerita secara urut dan benar meskipun dia belum bisa membaca. Melalui literasi visual bahkan seorang anak kecil yang belum belajar berjalan akan dapat menyusun buku-buku pavorit ataupun bermacam alat bermainnya yang diserakkan orang dewasa yang ada di sekitarnya. Namun, tentu saja kemampuan literasi visual dikembangkan jauh di luar kemampuan awal di atas.

Ada empat kategori literasi visual menurut Lacy (1986) yaitu :

  1. Pemahaman dari gagasan utama, yaitu kemampuan untuk memahami suatu pesan visual.
  2. Persepsi hubungan bagian atau hubungan keseluruhan, yaitu kemampuan untuk mengidentifikasi detil yang menyokong makna keseluruhan.
  3. Pembedaan khayalan-kenyataan, yaitu kemampuan untuk menyimpulkan atau menduga hubungan antara simbol/lambang dan kenyataan.
  4. Pengenalan tentang media artistik, yaitu kemampuan mengidentifikasi perangkat unik dari media yang digunakan.

Literasi visual dapat dilakuan melalui beberapa aktivitas yang menggunakan berbagai media seperti gambar dan film. Gambar dan film yang digunakan diusahakan sesuai dengan kontekstual dengan kehidupan anak.

 

  1. 2.       Literasi Lisan

Penganut perspektif orasi mengaggap bahwa kebutuhan yang paling utama dalam berkomunikasi adalah berbicara dan mendengarkan. Sementara itu, membaca-menulis dipandang sebagai keterampilan penting, tetapi bukan sebagai keterampilan primer yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan, para penganut perespektif literasi berpendapat sebaliknya.

 

  1. 3.       Literasi terhadap Teks Tertulis (Cetakan)

Literasi terhadap teks tertulis atau tercetak digambarkan sebagai aktivitas dan keterampilan yang berhubungan secara langsung dengan teks yang tercetak, baik melalui bentuk pembacaan maupun penulisan. Di negara-negara maju, seseorang yang memiliki kemampuan membaca dan menulis pada tingkatan tertentu dianggap sebagai masyarakat modern. Mereka mengaggap bahwa penggunaan media cetak atau tulisan merupakan aktivitas yang utama dalam kebidupan keseharian mereka.

Belajar literasi bagi anak dapat dilakukan di rumah dan di sekolah melalui berbagai kegiatan yang berkatian dengan kehidupannya sehari-hari.

 

  1. 4.       Literasi melalui Teks Tertulis

Membaca membutuhkan tingkat kemampuan dan pengetahuan tertentu karena  membaca tidak hanya melihat, mengeja, dan menerjemahkannya, tetapi juga harus memahaminya. Begitu pula dengan menulis, pada saat menulis diperlukan kemampuan menyusun gagasan sehingga dimengerti pembaca. Maka dari itu, kemampuan nyata yang diperlukan dalam kegiatan membaca dan menulis adalah kontruksi pengetahuan.

Menurut Lilian Kazt (1988) menyebutkan bahwa ada 4 kategori belajar yaitu pengetahuan, keterampilan, disposisi, dan perasaan. Disposisi merupakan kebiasaan berpikir, sedangkan perasaan digambarkan sebagai tanggapan emosional peserta didik terhadap situasi belajar.

Aktivitas disposisi dan perasaan erat kaitannya dengan teks tertulis. Setelah melewati pembelajaran dasar keterampilan membaca dan menulis, aktivitas cenderung ditinggalkan apalagi setelah lulus sekolah. Padahal individu menjadi terpelajar karena apa yang dibaca dan ditulis, bukan dari intruksi formal.

Peristiwa literasi merupakan situasi proses interpretatif. Peristiwa literasi ditandai dengan adanya interaksi sosial yang memusat pada satu bagian tulisan dan adanya keterlibatan dalam proses interpretatif.

 

  1. 5.       Proses Literasi

Proses literasi memiliki empat ciri universal, yaitu :

  1. Tujuan tekstual; ada pesan komunikasi tertulis yang sesuai dengan tujuannya
  2. Kesepakatan; makna dari pesan ditafsirkan anak sesuai dengan yang dimaksudkan
  3. Penggunaan bahasa yang bagus (seperti pada sebuah syair); untuk mengklarifikasi pesan sehingga anak harus menggunakan kemampuan bahasanya.
  4. Resiko yang diambil; anak menerima tantangan baru dalam berbahasa

 

Corak peristiwa dan proses literasi  mempengaruhi penguasaan literasi, maka guru harus menyediakan banyak pajanan bahasa, peristiwa, dan proses literasi agar bahasa anak berkembang.

 

 

Fungsi dan Penggunaan Bahasa dalam Orasi dan Literasi

 

Language arts atau seni berbahasa di sekolah dasar bertujuan mengembangkan kemampuan berbahasa sebagai alat utama dalam komunikasi dan sebagai bentuk estetik dalam mengekspresikan diri. Kemampuan berbahasa sangat penting dan dibutuhkan di berbagai bidang karena merupakan dasar belajar tentang segala hal.  Kita tidak mungkin belajar berbagai ilmu tanpa kemampuan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis).

Menurut Raka Joni, language arts merupakan perpaduan antara ilmu dan seni. Dikatakan ilmu karena language ars menganut prinsip-prinsip yang bersifat tetap dan umum, dan dikatakan seni karena memungkinkan adanya variasi yang sifatnya subjektif dan berbeda antara penutur yang satu dengan penutur lainnya.

Kiat berbahasa terdiri atas kemampuan berpikir, menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Kemampuan berpikir merupakan dasar untuk mencapai kemampuan yang lainnya.

  1. 1.       Bahasa dan Kemampuan Berpikir

Menurut teori Piaget, berpikir diperoleh terlebih dahulu kemudian kemampuan berbahasa. Berpikir merupakan elemen dasar dalam kegiatan berbahasa. Berpikir menempati posisi yang sangat penting sebagai strategi dalam proses berbahasa, baik reseptif maupun ekspresif, yang pada prosesnya diperlukan unit dasar kognisi serta mekanismenya.

Unit dasar kognisi disebut skema/skemata, yang merupakan pemahaman yang ada pada setiap orang terutama untuk mengorganisasikan dunianya ke dalam kategori-kategori. Ada tiga komponen skemata, yaitu :

  1. kategori pengetahuan
  2. identifikasi ciri-ciri kategori dan bagian dari kategori
  3. jaringan hubungan antarkategori

 

Perkembangan kognitif tidak hanya proses mental, tetapi merupakan kombinasi kematangan atau kedewasaan otak, sistem saraf, pengalman-pengalaman individu dalam mengadaptasi lingkungannya. Adaptasi lingkungan dapat dilakukan melalui proses asimilasi dan akomodasi. Asimilasi dilakukan untuk mempersepsi lingkungan secara tepat dan selaras dengan pengetahuan tentang dunia yang dipahaminya.  Sedangkan proses akomodasi dilakukan jika ada ketidaksesuaian/ketidakcocokan sehingga dilakukan pengubahan.

Individu melakukan adaptasi dengan lingkungan karena adanya ekuilibrium, yaitu adanya keseimbangan saat individu secara kognitif mampu mengasimilasi segala apa yang ditemukan dalam lingkungannya ke dalam struktur kognitif yang ada padanya. Namun sebaliknya, akan terjadi disekuilibrium jika struktur kognitif seseorang tersebut tidak mampu memahami peristiwa eksternal di lingkungan sekitarnya. Karena itu,  Piaget memprediksi tahapan perkembangan kognitif anak berlaku secara universal. Kegagalan anak dalam  strategi berpikir pada satu tahap dapat dipecahkan pada tahap perkembangan berikutnya.

 

  1. 2.       Fungsi Bahasa dalam Hubungannya dengan Kiat Berbahasa

Menurut Halliday (dalam jallongo, 1992) ada tujuh fungsi bahasa, yaitu :

  1. Fungsi Instrumental

Bahasa berfungsi untuk melayani kebutuhan manusia dalam mengelola lingkungan yang menyebabkan peristiwa-peristiwa tertentu terjadi. Fungsi ini disebut juga dengan istilah “Saya ingin”

  1. Fungsi Regulasi

Bahasa bertindak untuk mengawasi serta mengendalikan peristiwa-peristiwa atau seseorang. Fungsi regulasi atau “Lakukan seperti yang aku katakan kepadamu”

  1. Fungsi Interaksional

Disebut juga dengan istilah “Kau dan aku” ( Me and You) berfungsi untuk menjamin serta memantapkan ketahanan dan kelangsungan komunikasi, interaksi sosial.

  1. Fungsi Personal

Disebut juga dengan istilah “Ini aku datang” ( Here I come) memberi kesempatan kepada seseorang untuk.mengekspresikan perasaan, emosi pribadi serta reaksi-reaksinya-reaksinya yang mendalam. Pengungkapkan pribadi seseorang oleh dirinya sendiri biasanya ditadai oleh penggunaan fungsi personal bahasa dalam berkomunkasi dengan orang lain.

  1. Fungsi Heuristik

Disebut juga dengan “Katakan padaku apa dan mengapa” (Tell me why) digunakan untuk memperoleh. dan menggali ilmu pengetauan, mempelajari seluk-beluk lingkungan. Fungsi heuristik seringkali disampaikan dalam bentuk pertanyaan yang menuntu jawaban

  1. Fungsi Imajinatif

Disebut juga dengan “Biarkan kita berpura-pura” (Let’s pretend) merupakan fungsi bahasa yang memberi kesempatan kepada seseorang untuk berekspresi melalui penciptaan sistem-sistem atau gagasan-gagasan yang bersifat imajinatif. Mengisahkan cerita/dongeng, membacakan lelucon, atau menulis novel merupakan praktek penggunaan fungsi imajinatif bahasa.

  1. Fungsi Informasional atau Representasional

Disebut juga dengan “Sesuatu yang dikatakan kepadamu” (Something tell you) digunakan untuk membuat pernyataan, menyampaikan fakta-fakta dan pengetahuan, menginformasikan, menjelaskan atau melaporkan realitas yang sebenarnya, seperti yang dilihat oleh orang.

 

  1. 3.       Fungsi dan Penggunaan Bahasa dalam Kiat Berbahasa di Sekolah Dasar

Penggunaan bahasa adalah komponen-komponen kebahasaan yang mencakup aspek (1) fonologi, (2) sintaktis, (3) semantik, dan (4) pragmatik (Jalongo, 1992). Dalam praktik berbahasa, keempat komponen tersebut muncul dalam bentuk reseptif, yakni menyimak dan membaca serta muncul dalam bentuk produktif/ekspresif, yakni berbicara dan menulis.

Berdasarkan hal tersebut, maka penggunaan bahasa dalam kiat berbahasa di sekolah dasar tampak dalam tujuan “language art” yang ada dalam kurikulum yang mengacu ke dalam enam keterampilan, yaitu berbicara, menyimak, membaca, menulis, sastra, dan keterampilan berpikir (Ellis, 1989: 7-8).

Tujuan keterampilan berbicara :

  1. mengembangkan penyampaian pola-pola yang memungkinkan siswa dapat berbicara tentang ide atau gagasan secara jelas, jernih dan ekspresif;
  2. mengembangkan kemampuan mengadaptasi pembicaraan untuk situasi dan audiens yang berbeda-beda, misalnya percakapan personal atau pembicaraan berseting formal dalam kelompok besar,
  3. belajar beradaptasi secara produktif dan harmonis dalam kelompok diskusi lisan, baik dalam lingkup besar maupun kecil.

 

Keterampilan menyimak bertujuan :

  1. belajar membuat interpretasi yang bervariasi dari komunikasi lisan termasuk di dalamnya titinada, berhenti sejenak, volume dan gestur;
  2. ketermpilan beradaptasi, keterampilan menyimak untuk situasi dan audien yang berbeda-beda.

 

Keterampilan membaca bertujuan :

  1. memahami bahwa tujuan membaca adalah memperoleh makna dari apa yang dibaca
  2. mengembangkan keterampilan membaca yang diperlukan untuk memahami bahan-bahan tulisan.

 

Keterampilan membaca di bidang sastra bertujuan:

  1. membaca untuk kenikmatan dan untuk menanamkan kebiasaan membaca sepanjang hayat,
  2. memahami bahwa sastra adalah cermin pengalaman kemanusiaan yang merefleksikan motif-motif, konflik-konflik, serta nilai-nilai insani,
  3. mengidentifikasikan diri dengan karakter dalam sastra, dan dengan cara itu digunakan untuk memahami diri sendiri, orang lain serta dunia tempat mereka hidup,
  4. mengembangkan pengetahuan tentang berbagai ragam teknik dan bentuk sastra;
  5. dapat mendiskusikannya dengan efektif dan menulis tentang variasi bentuk sastra.

 

Keterampilan menulis bertujuan  :

  1. dapat menerapkan tahapan dalam proses berkomunikasi,
  2. mengadaptasi gaya menulis untuk maksud yang bervariasi,
  3. mengembangkan keterampilan menulis mereka sendiri dengan jelas,
  4. mengenalkan bahwa ketelitian dalam tulisan tangan, pungtuasi kapitalisasi, ejaan, dan elemen lain naskah merupakan bagian efektif tidaknya sebuah tulisan.

 

Keterampilan berpikir yang mendasari keterampilan menyimak, bicara, membaca, dan menulis serta sastra bertujuan:

  1. mampu menggunakan bahasa untuk berpikir kreatif; membuat relasi-relasi baru, mengekspresikan dan mengeksplorasikan perasaan-perasaan, persepsi dan ide-ide secara orisinal, serta menanamkan pemahaman akan diri sendiri;
  2. menggunakan bahasa untuk kemudahan berpikir logis; memformulasikan hipotesis, pemaham akan hubungan konseptual serta penarikan simpulan untuk dasar penghitungan evidensi;
  3. menggunakan bahasa untuk kemudahan berpikir evaluatif-kritis: penyikapan pertanyaan dalam perintah untuk melihat perbedaan makna, untuk membedakan antara fakta dan opini, dan mengevaluasi perhatian dan pesan pembicara atau penulis.

 

 

 

 

Model Pembelajaran Literasi

Literasi berasal dari kata literature yang artinya “kesastraan,kesusastraan, kepustakaan, buku-buku sebagai bahan bacaan (sebagai pendukung mata pelajaran yang diberikan oleh/guru)”. Literasi adalah budaya baca-tulis, kebalikan dari orasi yakni budaya dengar-ucap. Orang berpendidikan disebut literat karena mampu melakukan keduanya. Jadi,seorang yang banyak membaca tapi tidak menulis dapat dikatakan setengah berpendidikan. Ada sejumlah prinsip pendidikan literasi antara lain:

  1. Prinsip lisan ke tulisan.  Artinya keterampilan berkomunikasi lisan merupakan prasyarat untuk membangun keterampilan komunikasi tulis.
  2. Pemaknaan atau interpretasi. Berkomunikasi baik lisan maupun tulis pada hakikatnya menangkap makna, yakni makna interpersonal, ideasional, dan tekstual. Apa yang didengar dan dibaca dimaknai sebebasnya. Pemaknaan inilah yang mencerdaskan, karena membaca itu merangsang syaraf otak untuk terus berpikir.
  3. Penggunaan bahasa. Literasi bukan sekadar menangkap makna tapi juga melempar makna untuk ditangkap orang lain.
  4. Kolaborasi. Berkomunikasi adalah kerja sama membangun makna atau kesepahaman melalui interaksi personal, interpersonal, tekstual,dan transaksional.
  5. Konvensi. Berbahasa itu adalah berperilaku verbal dengan mengikuti aturan yang disepakati bersama. Ejaan, tanda baca, pola kata, pola kalimat, pola alinea, dan pola wacana diwariskan dari generasi ke generasi.
  6. Pengetahuan budaya. Belajar bahasa asing adalah juga belajarbudaya asing yang melekat pada bahasa itu.
  7. Pemecahan masalah. Dalam keseharian, komunikasi dilakukan untuk memecahkan beberapa masalah.
  8. Refleksi. Dengan refleksi dimaksudkan kesadaran pembelajar bahasa terhadap perilaku berbahasa pada dirinya dan pada oranglain.Dengan kata lain literasi adalah kemampuan dalam mendengar,berbicara, membaca, dan menulis yang merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh anak dalam meraih cita-citanya.
  9. Semua tidak bisa dipisahkan menjadi keterampilan-keterampilan tersendiri, di mana siswa dilatih untuk menguasainya. Memberikan pengalaman kontekstual yangmenghubungkan kehidupan siswa dengan dunia di sekeliling merekasangatlah penting. Selanjutnya, komunikasi fungsional tentang topik-topik relevan mencakup informasi dan minat terhadap wilayah isi. Pengajaranbidang, kajian merupakan lahan subur bagi pengembangan literasi siswa.
  10. Model pembelajaran literasi adalah suatu pola atau gaya belajar mengajar antara guru dengan siswa untuk memperoleh pengetahuan dengan cara membaca dan menulis yang akan dapat meningkatkan perkembangan kognitif anak, dalam rangka mencapai tujuan-tujuan pembelajaran yang efektif

Slide Pembelajaran BAhasa Indoneis Kelas Kelas I Semester 1 Aspek Membaca

Filed under: Uncategorized — Mas Lelis at 6:10 am on Senin, Juni 25, 2012

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Filed under: Uncategorized — Mas Lelis at 5:26 am on Senin, Juni 25, 2012

Hore…aku bisa

Semangat buat bahan pembelajaran